Minggu, 24 Oktober 2010

Mitos Tentang Jerawat yang beredar

Memiliki wajah yang mulus tanpa jerawat tentunya menjadi dambaan kita, apalagi bagi mereka yang masih dalam usia remaja. Ini karena wajah merupakan bagian yang lebih dahulu dilihat ketimbang bagian-bagian yang lain. Namun, sebelum kita berasumsi lebih jauh mengenai jerawat, ada baiknya kita mengetahui beberapa mitos yang beredar di masyarakat seputar jerawat ini.
1. Makan coklat menyebabkan jerawat
Coklat merupakan makanan dengan kalori tinggi. Tidak hanya coklat, makan gorengan dan pizza pun dipercaya menyebabkan munculnya jerawat yang menggangu. Namun, menurut American Academy of Dermatology, studi tidak menemukan adanya hubungan antara jerawat dengan makanan-makanan tersebut di atas. Kalaupun ada yang mengatakan demikian, maka hal itu sangat kontroversial sekali.
Adapun kepercayaan itu didasari keterlibatan makanan tinggi gula dengan munculnya jerawat. Tapi data tersebut tidak cukup kuat untuk mengatakan “hindari gula untuk menghindari jerawat”. Dengan kata lain, kemunculan jerawat disebabkan hal yang lain. Jerawat tidak serta merta muncul karena makan makanan tinggi kalori, melainkan karena aktivitas kelenjar sebasea yang meningkat pada periode tertentu.
2. Makan makanan yang berlemak menyebabkan jerawat
Asumsi bahwa jerawat muncul karena penyumbatan pori-pori wajah akibat minyak berlebih, memunculkan keyakinan bahwa dengan makan makanan berlemak seperti kacang, coklat, gorengan, akan mempercepat tumbuhnya jerawat. Tapi ternyata hal ini masih membutuhkan bukti untuk menyatakan adanya hubungan tersebut.
Secara fisiologis, setiap makanan yang mengandung lemak akan mengalami proses emulsifikasi di dalam lambung oleh cairan empedu. Setelah teremulsi, maka zat-zat yang bermanfaat bisa diserap oleh usus. Usus tidak dapat menyerap minyak. Setiap zat yang tidak bisa diserap oleh usus akan dibuang melalui feses. Tidak sedikit yang menggumpal membentuk fecalith (kotoran yang keras), sehingga membutuhkan bantuan serat dan air untuk memperlancar saluran pembuangannya.
3. Minum susu menyebabkan jerawat
Susu diyakini mengandung kalori tinggi dan lemak yang banyak. Penjelasannya tidak jauh berbeda dengan di atas. Butuh bukti yang cukup untuk menyatakan bahwa susu menyebabkan jerawat.
4. Wajah kotor menyebabkan jerawat
Ini alasan yang paling sering muncul di kalangan masyarakat. Wajah kotor menyebabkan pori-pori tersumbat, terutama pada remaja yang memiliki aktivitas yang padat di luar rumah. Belum lagi polusi udara yang membuat wajah cepat menjadi kotor. Biasanya mereka akan terobsesi untuk membersihkan wajah mereka berulang-ulang kali agar terhindar dari problem jerawat. Tapi, kenyataannya cara itu banyak menemui jalan buntu, nyaris gagal.
Wajah yang kotor tidak serta merta disebabkan oleh faktor eksternal (seperti debu, asap, polusi), tapi lebih condong ke arah perubahan hormonal pada usia remaja yang menyebabkan produksi minyak berlebihan. Seperti kita ketahui, enzim yang dilepaskan flora normal di wajah bisa bereaksi dengan sebum ataupun minyak di kulit, sehingga membentuk asam lemak bebas, yang pada gilirannya menyebabkan inflamasi pada daerah setempat.
Terlalu sering mencuci wajah juga tidak baik. Para ahli merekomendasikan mencuci wajah 2 kali sehari. Jika terlalu sering, maka pembersih wajah bisa mengiritasi kulit, dan ini tentu jadi sasaran empuk proses peradangan. Bukan hanya jerawat yang akan tumbuh nantinya, bahkan mungkin yang lebih parah lagi (infeksi, alergi misalnya).
5. Jerawat karena salah memilh kosmetik
Alasan ini sering muncul pada mereka yang menggunakan kosmetik pada wajahnya dan berdampak munculnya jerawat. Serta merta jerawat dihubungkan dengan kosmetik. Mungkin ada benarnya, tapi bisa jadi tidak.
Jika kulit wajah Anda sensitif pada kosmetik tertentu, maka reaksi yang sering dimunculkan adalah kulit kemerahan, panas, dan gatal. Ini adalah tanda yang sering dimunculkan oleh reaksi alergi. Kemunculan jerawat pada reaksi alergi bisa dikategorikan secondary infection, bukan primary infection.
Jika telah menemukan kosmetik yang cocok, bukan berarti terhindar dari jerawat. Jika lalai membersihkan wajah dari sisa-sisa kosmetik, maka tidak tertutup kemungkinan jerawat pun bisa muncul.
6. Jatuh cinta menyebabkan jerawat
Jerawat yang tumbuh di usia remaja sering diasosiasikan dengan ‘cinta kepada seseorang’. Tidak hanya jatuh cinta, bahkan stress juga dianggap bisa menyebabkan jerawat. Hal ini bisa saja benar, tapi tidak ada studi yang mengatakan bahwa hormon yang dipicu stress bisa menyebabkan demikian. Asumsinya, jika mereka yang tidak berjerawat bisa berjerawat, lantas bagaimana dengan yang memang sudah menderita jerawat? Apakah jerawatnya tambah parah? Tidak ada bukti demikian.
Rentang usia 12-24 tahun memang lebih rentan terkena jerawat, karena pada masa itu kelenjar sebasea sangat aktif memproduksi minyak, bahkan terkesan berlebihan. Jadi, tanpa mesti dipicu oleh apapun, kemunculan jerawat pada usia itu dinilai wajar. Jerawat yang tumbuh bukan diartikan ada cinta kepada seseorang, ada problem di kehidupan sosial, dan sebagainya.

Rekomendasi Makanan Yang Sehat
Bagi mereka yang rentan terkena jerawat, dianjurkan untuk makan makanan yang sehat, tinggi serat, dan minum air putih yang banyak.
Makanan yang sehat adalah makanan yang berimbang. Itu artinya Anda tidak cukup hanya makan satu jenis makanan saja. Serat yang tinggi banyak terdapat di dalam sayur dan buah. Minum air putih akan membantu melembabkan kulit. Kita ketahui bahwa 60% tubuh kita mengandung air dan kulit adakah organ yang paling sering kehilangan asupan air, disebabkan ia merupakan media evaporasi (penguapan).
Sangat baik untuk mengkonsumsi vitamin C dan E. Dua vitamin ini mengandung antioksidan dan sangat baik untuk menambah ketahanan sel-sel tubuh agar lebih kokoh dan tidak mudah rusak. Anda bisa mengkonsumsi vitamin C 1000 mg per hari dan vitamin E 600-800 mg per hari.
Kemarau Datang, Gatal Jamur Menyerang

Kemarau identik dengan cuaca yang panas, bikin gerah, dan membuat kita terus-terusan berkeringat. Jangankan di siang hari, bahkan di malam hari pun suhu masih terasa panas. Jika Anda kebetulan berada di ruangan yang menggunakan AC (Air Conditioner), mungkin situasi seperti ini tidak begitu mengganggu. Tapi, di ruangan tanpa AC, dan / atau hanya mengandalkan kipas angin, maka serta merta keringat pun keluar membasahi tubuh. Ini membuat kulit rawan terserang gatal jamur. Dan sering kali pencegahan aktif dibutuhkan untuk mengatasi problem ini.
Jamur (dalam medis disebut Tinea, Eczema atau Eksim) tumbuh pada daerah yang basah dan lembab, dan semakin subur jika daerah tersebut tertutup oleh lipatan tubuh dan terhindar dari cahaya matahari. Keberadaan jamur ini akan menimbulkan rasa gatal pada daerah setempat. Jika digaruk, maka luka di tempat garukan itu pun akan menjadi media yang sangat bagus tempat tumbuhnya jamur. Tidak hanya jamur, juga berpotensi muncul infeksi kulit lain seperti cellulitis yang biasanya berasal dari bakteri anaerob yang menempel pada kuku. Ini salah satu sebab utama mengapa gatal karena jamur tidak boleh digaruk.
Dalam dunia kedokteran, jamur ini biasanya disebut sebagai Tinea. Tinea ini diambil dari bahasa latin yang berarti Worm atau Larvae. Disebut juga sebagai ringworm. Tidak ada hubungannya dengan worm (cacing) sama sekali. Ini merupakan sebutan untuk ruam kulit yang memerah, bersisik, gatal, dan terlihat memiliki lingkaran merah (halo) yang mengelilinginya. Istilah yang lebih tepat untuk penyakit kulit karena jamur adalah Dermatophytosis yang artinya penyakit kulit yang disebabkan oleh biota seperti Trichophyton rubrum, Trichophyton tonsurans, Trichophyton interdigitale, Trichophyton mentagrophytes, Microsporum canis, dan Epidermophyton floccosum. Penggunaan istilah Tinea biasanya diikuti dengan menunjukkan lokasi kulit yang terinfeksi, contohnya Tinea Capitis yaitu infeksi jamur yang menyerang kepala, Tinea Cruris yaitu infeksi jamur yang menyerang lipatan kulit, dan sebagainya.
Sebenarnya, resiko terserang jamur ini tidak hanya pada daerah yang bertemperatur tinggi. Pada daerah yang bertemperatur rendah pun, jamur juga bisa tumbuh. Perbedaannya adalah jika Anda bekerja pada daerah yang bertemperatur tinggi, maka resiko terserang jamur meningkat hingga 4x lipat dibandingkan dengan daerah yang bertemperatur lebih rendah.
Gatal di kulit karena jamur tentunya membuat penderitanya sangat tidak nyaman. Apalagi rasa gatal itu begitu tak tertahankan sehingga tidak jarang penderitanya tidak sadar menggaruknya, bahkan di depan umum sekalipun. Jika keadaan ini berlanjut, maka akan menyebabkan kesan jorok pada mereka yang menderita jamur, padahal istilah ‘jorok’ jelas kurang cocok untuk menggambarkan situasi ini. Jamur itu tumbuh pada lokasi yang lembab, tidak peduli apakah lokasi itu bersih atau jorok.

Tips Merawat Wajah Yang Berjerawat

Andai jerawat terletak di punggung atau di tempat lain yang tidak kelihatan, mungkin masalah jerawat tidak menjadi masalah yang serius. Tapi, karena jerawat ini umumnya terdapat di wajah, maka jerawat sepele pun akan dianggap serius. Dalam hal perawatan wajah yang berjerawat, biasanya kita menginginkan hasil yang cepat. Godaan terhadap produk-produk yang menjanjikan hasil kesembuhan yang cepat tentunya bisa mengarahkan kita pada pilihan yang kurang tepat. Lantas, apa yang harus dilakukan?
Ada beberapa hal yang harus Anda perhatikan :
1. Kenali tipe kulit wajah Anda . Dikenal ada 3 tipe, yaitu : Kering, Berminyak, dan Normal. Bisa saja dijelaskan panjang lebar tentang tipe-tipe tersebut di sini, tapi akan lebih mudah jika Anda mengikuti test sederhana untuk mengetahui jenis kulit Anda. Anda bisa klik di sini
2. Usia. Kelenjar minyak di kulit cenderung lebih aktif pada mereka yang menanjak dewasa. Bagi mereka yang sudah menginjak usia >30 tahun, jerawat tumbuh lebih dikarenakan ketidakseimbangan hormon. Selain itu, elastisitas kulit menurun seiring bertambahnya usia.
3. Iklim. Iklim yang dingin akan membuat kulit lebih kering. Iklim yang panas akan membuat kulit lebih berminyak.i
4. Profesi dan pekerjaan. Resiko terkena masalah kulit lebih tinggi pada mereka yang bergonta-ganti produk kecantikan. Biasanya tuntutan pekerjaan membuat seseorang kurang memperhatikan hal ini. Jika profesi Anda sehari-hari hanya di rumah, tentunya tidak perlu terlalu sering kontak dengan produk kecantikan.
5. Produk pembersih wajah yang Anda gunakan. Gunakan produk yang sesuai dengan tipe kulit Anda.
Pahamilah bahwa terapi jerawat itu membutuhkan waktu. Biasanya butuh waktu 4-8 minggu untuk menunjukkan hasil perawatan, dan butuh beberapa bulan untuk mendapatkan kulit yang benar-benar bebas jerawat. Itupun tergantung tingkat keparahan jerawat yang diderita.
Terkadang tidak cukup menggunakan produk pembersih wajah saja, tidak cukup dengan menggunakan produk perawatan kulit wajah yang bisa didapatkan di pasaran, tapi sering kali butuh racikan dari beberapa bahan aktif yang disebut dengan Kosmetik Medik. Yang bisa melakukan ini adalah dokter spesialis kulit yang mendalami bidang kecantikan (estetika). Dokter akan menyesuaikannya dengan tipe kulit, usia, dan tingkat keparahan jerawat.
Kosmetik Medik
Kenapa kosmetik medik ini menjadi penting? Karena ia mengandung bahan yang yang sangat dibutuhkan untuk perawatan kulit. Bahkan sering kali, kosmetik medik ini menjadi solusi untuk keluhan kulit Anda. Untuk kita ketahui, komposisi kosmetik medik terdiri dari paling sedikit 1 (satu) medikamen dari yang tersebut di bawah ini :
• Antiseborrhoic : digunakan untuk mengatasi masalah noda di kulit, kulit kepala, rambut berminyak yang disebabkan oleh ketombe.
• Bactericid : digunakan untuk mengatasi bau tidak sedap yang sulit hilang yang disebabkan oleh kuman.
• Anti inflammatory agent : digunakan untuk mengatasi inflamasi (peradangan) kulit.
• Refrigerant (pendingin) : untuk meningkatkan sensasi kosmetik pada kulit. Seperti camphor, menthol, methyl salicylate, cineole, menthone, piperitone, borneol, beta-pinene, menthyl acetate, vanillylamido nonate. Di antara semua ini yang paling disukai adalah camphor, menthol dan piperitone.
• Carbon dioxide. Untuk carbon dioxide ini merupakan penemuan terbaru dimana penelitiannya membuktikan efek pengobatannya jauh lebih baik dibandingkan yang tidak menggunakannya. Carbon dioxide didapatkan sebagai molekul CO2 dan dilarutkan sebagai asam. Larutan ini bersifat vasodilator dan meningkatkan penyerapan di kulit. Kosmetik medik memiliki pH antara 4-7, dan lebih disukai antara 4,5 s/d 6,5 saat digunakan dalam bentuk cair. pH ini dikontrol dengan pH modifier berupa asam organik seperti citric acid, tartaric acid, dan lactic acid.
Kosmetik medik ini bisa dibuat dalam bentuk lotion, emulsi, tonik rambut (hair tonic), shampo, yang dikemas dalam wadah tahan tekanan (pressure resistant). Untuk membuat lotion anti aging (anti penuaan dini), biasanya dengan menambahkan hormon estradiol.
Kebutuhan masyarakat terhadap kosmetik medik ini semakin tinggi, namun kelihatannya informasi seputar kosmetik medik masih sangat minim, sehingga tidak sedikit dari kita yang lebih suka mencoba-coba menggunakan produk di pasaran. Jika memang kebetulan cocok, tentu tidak menjadi masalah. Tapi, bagaimana jika tidak cocok? Anda tentu lebih tahu jawabannya.

0 komentar:

Poskan Komentar